Sinkronisasi Standard Dengan Keperluan Industri Rantai Dingin / Synchronizing Standards With the Needs of Cold Chain Industry

SINKRONISASI STANDARD DENGAN KEPERLUAN INDUSTRI RANTAI DINGIN

Perkembangan terkini dimana berbagai isu geopolitik serta grup negara telah mewarnai bisnis logistik, khususnya logistik yang mendukung ketahanan pangan negara. Konflik timur tengah yang melibatkan beberapa negara adidaya membuat peta bisnis mengalami penyesuaian. Persediaan energi dari pembangkit tenaga uap, air dan lainnya semakin terbatas padahal sektor logistik sangat bergantung pada energi ini. Saatnya energi baru dan terbarukan serta energi alternatif di dalam upaya penghematan pemanfaatannya menjadi krusial.

 Hemat energi sudah menjadi fokus utama di semua sektor industri. Antisipasi aktif akan menjadikan industri tetap dapat survive di berbagai isu, terutama isu geopolitik saat ini. Standar operasi diperbaiki dan disesuaikan dengan tetap berpegang dari kualitas hasil tetap terjaga. Kecepatan kerja dan layanan telah menjadi kunci performa industri yang terus terupdate sesuai permintaan dan persyaratan yang diminta publik sebagai pemakai.

Isu tersebut diatas mengemuka saat diselenggarakan ARPI member gathering pada 22 April lalu. Diawali kata sambutan dari Deputy Bidang Tata Niaga dan Distribusi Pangan Kementerian Koordinator Bidang Pangan yang menegaskan pentingnya ketahanan pangan nasional melalui program pemerintah seperti Kampung Nelayan Merah Putih, Koperasi Desa Merah Putih dimana sebagian besar memerlukan sistem rantai dingin yang baik, ARPI memegang peranan penting dan diminta dapat mendukung penuh. Tema yang diusung pada acara ini sangat menarik menyangkut perkembangan terkini teknologi rantai dingin.

Pembicara sponsor lebih banyak menjelaskan tentang digitalisasi kedepan yang merupakan tantangan bisnis serta pemenuhan kepatuhan standar global untuk menghindari keracunan makanan akibat penerapan rantai dingin yang buruk. Willog dari Korea memaparkan tentang AIOT yang membantu memonitor sistem rantai dingin. Intellitrac mengkhususkan di TMS dengan analisa biayanya, AEB mengkhususkan kepada WMS yang didukung analisa biaya inventory, Danfoss dengan digitalisasi AlSense memonitor performa mesin pendinginnya, SunCargo yang spesialisasi pengiriman makanan dan vaksin antar pulau (Jawa dan Kalimantan) merunut model pengiriman multimoda, dan kendaraan logistik Isuzu menjelaskan sistem dashboard GPS kendaraan yang multifungsi di dalam memonitor performa kendaraan dan sopirnya. 

Sementara ARPI menjelaskan bahwa dengan adanya perubahan geopolitik global, sama halnya seperti awal pandemi, bahwa adanya disrupsi rantai pasokan, terutama pasokan bahan baku peralatan pendingin. Ekonomi Indonesia masih tetap akan tumbuh, walaupun akan terkoreksi berkurang sekitar 0,1 sd 0,2% dari prediksi. Namun kondisi geopolitik saat ini juga memberi syarat akan pemanfaatan energi yang harus lebih hemat. Dan ini menuntut kita mencari solusi yang tepat dan kolaborasi akan meringankan bobot beban yan g harus ditanggung oleh masing-masing pemain (industri).

Member gathering ini juga didukung oleh Bumi Daya Plaza sebagai perusahaan pengelola dan penyewa gedung grup Bank Mandiri serta kontraktor sipil bangunan, pabrikan palet plastik dan boks plastik MS Plastindo, pabrikan karoseri reefer box Delima Mandiri, dan sponsor backdrop Jalur Sejuk, TI Asia, Xaerus dan NPCT-1. ARPI juga meluncurkan buku manual rantai dingin sebagai pengenalan operasional rantai dingin. Buku ini akan berlanjut tentang bagaimana membentuk ekosistem rantai dingin nasional. 

SYNCHRONIZING STANDARDS WITH THE NEEDS OF THE COLD CHAIN ​​INDUSTRY

Recent developments, including various geopolitical issues and groups of countries, have influenced the logistics business, particularly logistics that support national food security. The Middle East conflict involving several superpowers has caused the business landscape to adjust. Energy supplies from steam, hydro, and other power plants are increasingly limited, even though the logistics sector is highly dependent on these sources. It is time for new, renewable, and alternative energy to become crucial in efforts to conserve energy.

Energy conservation has become a primary focus across all industrial sectors. Active anticipation will ensure the industry remains resilient amidst various challenges, particularly current geopolitical issues. Operating standards are being improved and adjusted while maintaining quality output. Work speed and service have become key to industrial performance, continually updated to meet the demands and requirements of the public as users.

The aforementioned issues emerged during the ARPI member gathering on April 22nd. It began with remarks from the Deputy for Food Commerce and Distribution at the Coordinating Ministry for Food Affairs, who emphasized the importance of national food security through government programs such as the Red and White Fishermen’s Village and the Red and White Village Cooperative, many of which require a robust cold chain system. ARPI plays a crucial role and was asked to fully support it. The event’s theme, which featured a compelling focus on the latest developments in cold chain technology, was a compelling one.

Sponsored speakers elaborated on the future of digitalization, a business challenge, and compliance with global standards to prevent food poisoning due to poor cold chain implementation. Willog from Korea presented on AIOT, which helps monitor cold chain systems. Intellitrac specializes in TMS with cost analysis, AEB specializes in WMS supported by inventory cost analysis, Danfoss, with AlSense digitalization, monitors the performance of its refrigeration machines, SunCargo, which specializes in inter-island food and vaccine delivery (Java and Kalimantan), explores multimodal delivery models, and Isuzu logistics vehicles explained their multifunctional vehicle GPS dashboard system in monitoring vehicle and driver performance.

Meanwhile, ARPI explained that due to global geopolitical changes, similar to the beginning of the pandemic, there has been disruption to supply chains, particularly the supply of raw materials for refrigeration equipment. Indonesia’s economy will still grow, although it will be corrected by around 0.1 to 0.2% below the forecast. However, the current geopolitical conditions also require more efficient energy use. This requires us to find the right solutions, and collaboration will ease the burden on each industry player. This member gathering was also supported by Bumi Daya Plaza as the management and tenant company of the Bank Mandiri group building and the building’s civil contractor, plastic pallet and plastic box manufacturer MS Plastindo, reefer box body manufacturer Delima Mandiri, and backdrop sponsors Jalur Sejuk, TI Asia, Xaerus and NPCT-1. ARPI also launched a cold chain manual as an introduction to cold chain operations. This book will continue on how to establish a national cold chain ecosystem.