Berita Industri Cold Chain UMKM – SMEs Cold Chain Industry News

VALIDASI COLD CHAIN PRODUCT (CCP) UNTUK VAKSIN COVID-19

Situasi Pandemi COVID-19 nasional yang telah berlangsung sejak bulan Februari 2020 lalu, turut mendukung penerapan cold chain delivery terutama bersuhu chiller (bersuhu +2 s/d +8 derajat Celcius). Infrastruktur cold chain dipersiapkan sesuai dengan persyaratan suhu yang diperlukan oleh produk tersebut, seperti vaksin COVID-19 ini. Monitoring suhu vaksin yang menuntut kontrol yang ketat sesuai kisaran suhunya di dalam menjaga kualitas produk. Standard Operation Procedure (SOP) di dalam pendistribusian dan penyimpanan vaksin. Berikut TIPS dari Ketua Chapter ARPI Jakarta yang juga selaku Pimpinan PT. Karya Indonesia Sukses yang telah berpengalaman dalam pengiriman produk farmasi kemasan parcel.

FGD PEMBERDAYAAN INFRASTUKTUR NILAI TAMBAH PRODUK HORTIKULTURA DI INDONESIA

“Issue of Demographic and Dietary Pattern” telah menjadi sebuah tantangan bagi negara-negara di dunia terkait dengan program ketahanan pangan nasionalnya melalui pemberdayaan usaha kecil dan menengah di sector hulu pangan dan jaringan pasarnya. Dengan semakin meningkatnya golongan masyarakat berpenghasilan menengah dan urbanisasi telah menuntun peningkatan permintaan akan nutrisi dan olahan makanan. Hal ini menjadi topik utama dalam  Forum Group Discussin (FGD) secara online yang bertopik Policy Forum for Policy Development of Value Chain Infrastructure for Horticulture Products in Indonesia. FGD ini diprakarsai oleh Badan Perencanaan dan Pengembangan Pembangunan Nasional (Bappenas) yang bekerjasama dengan Asian Development Bank (ADB) serta didukung oleh Direktorat Jenderal Hortikultura, Kementerian Pertanian RI. Didalam inisiasi program pemberdayaan ini, baik dari segi pemetaan lahan pertanian, infrastruktur pendistribusian hingga ke pasar, serta platform digitalisasi, Kementeriaan Pertanian mempunyai target membuka kampung hortikultura yang dilengkap penyediaan sarana dan prasarana post havest dan jaringan pasarnya sebanyak 300 kampung di 5 tahun kedepan. Didalam menyediakan kebutuhan produk hortikultura segar sepanjang tahun, diperlukan market intelligence yang tepat sehingga tidak ada kelangkaan produk pilihan di pasar serta pusat distribusi yang berfungsi sebagai buffer stock dengan aplikasi teknologi TCL.   
Pembiayaan usaha pertanian hortikultura dari hulu ke hilir memang sangat dibutuhkan bagi usaha kecil dan menengah, karena itu Asian Development Bank dengan kementerain terkait akan bekerjasama didalam program ini.   FGD terbatas ini dihadiri oleh pemangku regulasi dan program serta ARPI dan asosiasi terkait lainnya.

—————————————————————————————————————–

TIPS MEMILIH KENDARAAN BERPENDINGIN

Bagi pebisnis UMKM produk makanan dan minuman terutama yang memerlukan kontrol temperatur di dalam mengirimkannya ke pengusaha ritel, warung, katering, restoran, hotel dan pasar segar. Kita perlu memilih dengan seksama atas kendaraan berpendingin, dengan mempertimbangkan :

  1. Layanan yang dapat disediakan, seperti: dokumen pengiriman, penyimpanan data-data produk selama pengiriman, monitor temperatur dan pergerakan produk selama pengiriman dan ketepatan waktu skedul pengiriman.
  2. Kapabilitas tenaga operasional.
  3. Harga yang kompetitif.
  4. Penanganan bongkar muat barang atau produk.
  5. Dan jasa lainnya.

Didalam memenuhi standar yang ekselen dan sesuai dengan persyaratan kustomer yang diminta, PT. Darta Logistic Indonesia dapat menjawab semua kriteria tersebut. Jasa repacking untuk barang-barang berbahaya pin dapat dilayani. Keunggulan lainnya adalah keberadaan gudang dekat bandara, sertifikasi SDM, dan waktu yang fleksibel sesuai permintaan kustomer. Truk berpendingin telah dilengkapi GPS dan sensor temperatur (sumber: Darta Logistic Indonesia). Info lengkap: http://www.darta.co.id

————————————————————————————————–

PENGEMASAN PANGAN (AMAN, NYAMAN DAN EFEKTIF).

Sektor pengemasan merupakan industry global yang sangat penting, karena hamper semua produk yang dijual di pasar selalu dalam kondisi dikemas. Untuk itu teknik pengemasan dan pemilihan bahan kemasan yang tepat memerlukan pertimbangan.

Sebagian besar produk pangan, tujuan utama untk pengemasan adalah: 1. Menyediakan sifat-sifat “perlindungan” yang optimal dari pengaruh kerusakan pangan, 2. Mempertahankan mutu dan nilai gizi, 3. Memperpanjang umur simpan. Pertimbangan lain adalah bahwa pengemasan harus didesain dengan bentuk dan ukuran yang cocok dan desain grafisnya harus mampu menarik pembeli. Tetapi sejalan dengan waktu, pengemasan saat ini juga dituntut untuk ramah lingkungan dan turut aktif dalam memberikan perlindungan produk (active packaging) serta cerdas dalam memberikan informasi kondisiproduk yang dikemasnya (intelligent packaging). Tantangan yang bersifat mendasar kedepan dari pengemasan makanan dan minuman yaitu bagaimana mengkombinasikan sifat produk yang dikemas dengan sifat kemasan, kondisi pengemasan dan distribusi serta tujuan akhir dari suatu produk.

Untuk menentukan pilihan yang tepat dalam pengemasan bahan makanan, ada lima criteria dasar yang harus diperhatikan, yaitu: 1. Kenampakan, 2. Proteksi, 3. Fungsi, 4. Biaya, dan 5. Kemudahan untuk membuang kemasan pasca pakai.

Diperkirakan pertumbuhan pemakaian kemasan di Indonesia selama tiga tahun belakangan ini rerata 10-13 % setahun. Pemakaian kemasan terbesar di Indonesia adalah sector agrofood, mencapai 60 % dari keseluruhan pemakaian kemasan.

Perubahan dalam kemasan juga dipicu oleh pertumbuhan komposisi penduduk, perubahan dalam persepsi, selera dan kebiasaan hidup penduduk. Namun factor-faktor utama yang mendorong terjadinya perubahan dalam kemasan adalah perubahan dalam kebiasaan makan para konsumen. Keluarga di kota besar telah jarang makan bersama di rumah setiap hari. Banyak yang makan sambil nonton televise dan lainnya. Perubahan didalam kebiasaan makan ini, telah meningkatkan permintaan untuk makanan olahan yang dapat dimakan segera. Termasuk disini makanan yang telah didinginkan, sehingga banyak rumah tangga yang mempunyai lemari es atau freezer.   

ENGLISH VERSION

FOOD PACKAGING (SAFE, CONVENIENT AND EFFECTIVE).

The packaging sector is a very important global industry, because almost all products sold in the market are always packed. For this reason, packaging techniques and choosing the right packaging materials require consideration.

For most food products, the main objectives for packaging are: 1. Provide optimal “protection” properties from the effects of food damage, 2. Maintaining quality and nutritional value, 3. Extending shelf life. Another consideration is that the packaging must be designed in the right shape and size and the graphic design must be able to attract buyers. But over time, current packaging is also required to be environmentally friendly and actively participate in providing product protection (active packaging) as well as being smart in providing information on the product conditions that are packaged (intelligent packaging). The fundamental challenge in the future of food and beverage packaging is how to combine the characteristics of the packaged products with the characteristics of the packaging, the conditions of packaging and distribution and the final destination of a product.

To determine the right choice of food packaging, there are five basic criteria that must be considered, namely: 1. Appearance, 2. Protection, 3. Function, 4. Cost, and 5. Ease of disposing of post-used packaging.

It is estimated that the growth in packaging usage in Indonesia for the past three years has averaged 10-13% a year. The largest use of packaging in Indonesia is the Agro-food sector, accounting for 60% of all packaging usage. Changes in packaging are also triggered by growth in population composition, changes in perceptions, tastes and life habits of the population. However, the main factors driving changes in packaging are changes in consumers’ eating habits. Families in big cities rarely eat together at home every day. Many eat while watching television and others. These changes in eating habits have increased the demand for processed foods that can be eaten immediately. This includes refrigerated food, so that many households have refrigerators or freezers.

——————————————————————————————————–

COLD CHAIN, NYAWA USAHA FROZEN FOOD

COLD CHAIN, NYAWA USAHA FROZEN FOOD (ditulis oleh BOE ARPI)

UKM frozen food adalah mereka yang bergerak dalam bisnis makanan dengan menggunakan udara dingin – beku sebagai pengawetnya, bisa berupa bahan mentah (daging, seafood, sayuran, buah, dan lainnya) maupun olahan. Katering, warung, dan kafe juga merupakan bagian dari rantai usaha frozen food yang membutuhkan teknik cold chain untuk mempermudah mengelola makanan dan minuman yang disimpan.

Mengapa frozen food makin berkembang?

Gaya hidup modern menuntut semuanya berjalan serba cepat sehingga kebutuhan manusia akan makanan dan minuman pun juga harus cepat saji. Pembekuan membuat penyajian makanan lebih mudah, tetap enak, tidak ada perubahan fisik berarti dan tidak ada nutrisi yang hilang. Teknik cold chain juga merupakan cara pengawetan makanan yang paling aman.

Rantai dingin – cold chain adalah bagian dari mekanisme pengawetan makanan yang membuat bisnis frozen food tetap eksis tanpa kendala mutu bahkan ancaman food safety. Cold chain adalah nyawa dari usaha makanan beku – frozen food. Memahami dan menjaga teknik cold chain akan meningkatkan omzet, demikian pula sebaliknya jika ada kegagalan penerapan teknik. Jangan biarkan bisnis frozen food dikuasai asing hanya karena UKM tidak sigap melihat perubahan.

Kita sering mendengar kalau bisnis frozen food membutuhkan investasi hingga milyaran rupiah. Ternyata dengan omzet yang tidak begitu besar UKM dapat memproduksi frozen food dengan menggunakan teknologi sederhana cold chain.

Poin penting dalam penerapan cold chain bagi UKM adalah :

  1. Teknologi tepat guna yang akan diterapkan untuk dapat menjaga mutu produk.
  2. Tetapkan jangkauan pasar yang dibidik untuk membuat platform rantai pasok dan rantai distribusinya yang terukur.
  3. Pemakaian aplikasi digital untuk mengembangkan pasar tujuan, dapat melalui jasa e-commerce ataupun market-place.
  4. Terus memperbarui konektivitas dalam menjalin kolaborasi usaha untuk pengembangan kedepan.

English Version :

COLD CHAIN, A LIFE BUSINESS OF FROZEN FOOD (written by ARPI BOE)

Frozen food SMEs are those engaged in the food business using cold – frozen air as a preservative, which can be in the form of raw materials (meat, seafood, vegetables, fruit, etc.) or processed. Caterers, stalls, and cafes are also part of the frozen food business chain which requires cold chain techniques to make it easier to manage stored food and beverages.

Why is frozen food growing?

Modern lifestyle demands that everything runs fast so that human needs for food and drink must also be fast food. Freezing makes serving food easier, remains delicious, there are no significant physical changes and no nutrients are lost. Cold chain technique is also the safest way of preserving food. Cold chain – cold chain is part of the food preservation mechanism that makes the frozen food business exist without quality constraints and even food safety threats. Cold chain is the life of frozen food business. Understanding and maintaining cold chain techniques will increase turnover, and vice versa if there is a failure in the application of the technique. Don’t let the frozen food business be controlled by foreigners just because SMEs are not ready to see changes.

We often hear that the frozen food business requires an investment of up to billions of rupiah. It turns out that the turnover is not that big, SMEs can produce frozen food using simple cold chain technology.

The important points in implementing cold chain for SMEs are:

  1. Appropriate technology to be applied to maintain product quality.
  2. Define the target market reach to create a scalable supply chain platform and its distribution chain.
  3. Use of digital applications to develop destination markets, through e-commerce or market-place services.
  4. Continue to update connectivity in establishing business collaborations for future development.

——————————————————————————————————–

SISTEM LOKER BERPENDINGIN UNTUK PENGIRIMAN PRODUK BUAH

PENGIRIM PARSEL ASAL POLANDIA MEMPERKENALKAN LOKER PRODUK BUAH YANG DIDINGINKAN

Loker berpendingin tempat Anda dapat mengumpulkan buah dan sayuran. Ini adalah salah satu konsep baru yang dikembangkan oleh perusahaan pengiriman paket Polandia, InPost. Mereka telah meluncurkan pilot serupa di Krakow dan Warsawa. Dengan ini, perseroan berharap bisa mendapatkan pijakan lebih lanjut di dunia belanja online. Loker ini sangat sukses di Polandia. Perusahaan juga memilikinya di lokasi strategis, seperti supermarket, di Inggris dan Italia. Ini berbeda dengan pengiriman ke rumah. Perusahaan memiliki satu tujuan utama. Mereka ingin lebih efisien dan lebih ramah lingkungan daripada para pesaingnya. Menurut CEO Rafal Brzoska, kurir mereka sekarang, tidak lagi harus menyeberang ke seluruh kota untuk mengirimkan paket ke rumah orang. InPost ingin mendaftarkan dirinya di bursa saham Amsterdam. Mereka akan berekspansi ke Belanda dan Belgia. Rafal mengatakan dia, bagaimanapun, pasti mengingatnya. Sumber: InPost, Trouw, IEX http://www.freshplaza.com (tanggal publikasi: Jum 15 Jan 2021).

POLISH PARCEL DELIVERER INTRODUCES REFRIGERATED FRUIT PRODUCE LOCKERS

Refrigerated lockers where you can collect your fruit and vegetables. This is one of the new concepts developed by the Polish parcel delivery company InPost. They’ve launched similar pilots in Krakow and Warsaw. With this, the company hopes to gain a further foothold in the online shopping world.

These lockers are very successful in Poland. The company also has them in strategic locations, like supermarkets, in the UK and Italy. This is different from home deliveries. The company has one primary objective.
It wants to be more efficient and greener than its competitors. According to CEO Rafal Brzoska, their couriers now, after all, no longer have to criss-cross the entire city to deliver packages to people’s homes.
InPost wants to list itself on the Amsterdam stock exchange. They are going to expand into the Netherlands and Belgium yet. Rafal says he’s, however, definitely keeping that in mind. Publication date: Friday, 15 Jan 2021
Source: InPost, Trouw, IEX, http://www.freshplaza.com