Site icon ARPIonline

Pemberdayaan Eksplorasi Terukur Hasil Laut / Empowering Measured Marine Exploration

PEMBERDAYAAN EKSPLORASI TERUKUR HASIL LAUT

Dengan kemampuan dan pengalaman para penangkap ikan skala kecil menengah (nelayan), diperlukan program nasional yang terarah dan detail yang dapat dilakukan secara kolaborasi bersama para pemangku kepentingan. Tidak hanya melibatkan regulator (kementerian) dengan Badan Usahanya saja, tetapi juga melibatkan pera pemain yang telah eksis di dalam mengoprasikan dan mengelola sumberdaya ini agar didapatkan hasil yang maksimal dan proper.
ARPI dalam kunjungannya ke Kampung Nelayan Merah Putih (KNMP), di Kabupaten Sinjai, Sulawesi Selatan, mempelajari detail infrastruktur yang telah dibangun dan bagaimana pemanfaatannya agar didapatkan utilisasi yang baik dari ketersediaan infarstrukturnya.

Dengan komoditas andalan Tuna hasil tangkapan nelayan, portable cold storage yang tersedia berkapasitas 10 ton dan mesin pembuat es berkapasitas 1 ton untuk waktu produksi 7-8 jam, belum sepenuhnya dapat mensupport operasional KNMP tersebut. Situasi ini harus dapat segera diantisipasi dengan membuat tatanan ruang pemakaian area KNMP yang masih dapat diutilisasi lebih baik. Ruang proses sebagai penanganan awal hasil tangkapan ikan nelayan belum memadai.
Pilot project pemerintah ini yang telah merambah di 63 titik area, kedepannya memerlukan model bisnis yang komprehensif dengan lebih memberdayakan SDM nya serta pemanfaatan ruang yang terukutr dan sesuai kebutuhan hasil tangkapan nelayan setempat.

Dalam kesempatan lainnya, ARPI yang didampingi oleh anggota potensial EST dan Delima Mandiri, mengunjungi fasilitas pelabuhan ASDP di Bajoe – Bone dan menandatangani perjanjian kerjasama dengan asosiasi logistik dan freight forwarding (ALFI), Cabang Sulawesi Selatan & Barat.

EMPOWERING MEASURED MARINE EXPLORATION

Given the capabilities and experience of small- and medium-scale fishers (fishermen), a targeted and detailed national program is needed that can be implemented collaboratively with stakeholders. This should involve not only regulators (ministries) and their respective business entities, but also existing players in the operation and management of these resources to achieve optimal and proper results.

During a visit to the Red and White Fishermen’s Village (KNMP) in Sinjai Regency, South Sulawesi, ARPI studied the details of the existing infrastructure and how it can be utilized to achieve optimal utilization.
With tuna being the mainstay commodity caught by fishermen, the available portable cold storage with a capacity of 10 tons and an ice-making machine with a capacity of 1 ton for a production time of 7-8 hours are not yet fully capable of supporting the KNMP’s operations. This situation must be addressed immediately by improving the spatial planning of the KNMP area, which can still be utilized. Processing space for the initial handling of fishermen’s catches is inadequate.

This government pilot project, which has already reached 63 locations, will require a comprehensive business model that further empowers human resources and utilizes space appropriately and appropriately for local fishermen’s catches.
On another occasion, ARPI, accompanied by potential members EST and Delima Mandiri, visited the ASDP port facilities in Bajoe, Bone, and signed a cooperation agreement with the Logistics and Freight Forwarding Association (ALFI), South & West Sulawesi Branch.

Exit mobile version