SEMAKIN KOMPLEKS PERSYAYARATAN RANTAI DINGIN KEAMANAN PANGAN
Perubahan suhu yang ekstrim serta terus meningkatnya pemanasan global membuat produksi hasil pertanian semakin terbatas walau permintaan pangan terus meningkat sejalan dengan pertambahan populasi penduduk dunia. Program FAO untuk tidak ada penduduk dunia yang kurang gizi bahkan kelaparan (program zero hunger) di tahun 2030 sulit tercapai jika sistem dan infrastruktur rantai dingin tidak dibangun dengan baik dengan teknologi yang terus berkembang dan proper. Permasalahan yang dihadapi saat ini semakin kompleks dengan adanya konflik negara teluk yang membatasi pasokan energi mineral dan bahan baku lainnya, yang dalam singkatnya semua kebutuhan yang diperlukan untuk memperkuat ketahanan pangan negara terganggu dengan adanya disrupsi rantai pasokan. Perihal ini sedang dihadapi oleh semua negara yang terus mencari solusi strategi yang tepat dan efisien.
Hal ini terungkap di dalam Forum Logisttik Internasional di dalam Smart Business & Logistic Asia Conference dan Expo di Taipei, Taiwan, pada 23 sd 25 Juni 2026 lalu. Konferensi yang dihadiri oleh 8 negara di Asia ini, tampil sebagai pembicara utama adalah: Taiwan, Indonesia, Singapore, Thailand, dan Hongkong. Forum ini bertujuab untuk kolaborasi sesama negara Asia, terutama yang tersebut diatas dengan tururt serta negara Jepang, Korea dan Vietnam. Di dalam Forum Logistik Internasional ini, tema utama yang dijelaskan adalah bagaimana masa depan logistik rantai dingin dan bagaimana mengantisipasinya dengan strategi industri dan teknologi yang tepat dan didukung dengan harmonisasi regulasi antar negara.
Negara Indonesia yang dalam hal ini diwakili oleh Asosiasi Rantai Pendingin Indonesia (ARPI) selain menjelaskan tentang peranan asosiasi terhadap pemerintah dan publik yang membutuhkan, juga menjelaskan tentang situasi kekinian infrastruktur rantai dingin nasional, bagaimana menyusun strategi bisnis industri, bagaimana membuat regulasi bersama dengan instansi pemerintah terkait, dan teknologi-teknologi kekinian yang mendukung efisiensi pemakaian energi, kontrol energi hijau, standardisasi operational dan produk yang dibutuhkan industri, serta kolaborasi yang dperlukan sesama negara. Strategi utama kedepan setelah penanda tanganan MOU antar negara ini, adalah eksplorasi pasar bahan baku, teknologi yang diperlukan, serta kondisi kekinian pasar rantai dingin.
Sebagaimana diketahui, bahwa pangsa pasar rantai dingin negara Asia Tenggara, 38 persen ada di Indonesia yang tipikal geografinya adalah negara maritim. Sedangkan Taiwan mempunyai teknologi Artificial Intelligent (AI) yang mumpuni di sektor pertanian dan maritim, serta teknologi semi kondusktor yang menguasai 65% pasar dunia.
Sementara itu dalam acara yang berbeda, pada acara seminar Smart Packaging For Food Delivery & Storage pada Expo All Pack Surabaya pada 1 sd 4 Juli lalu, ARPI berkolaborasi dengan PT. Mandiri Sinergi Plastindo (manufaktur otomasi palet plastik dan boks) menjelaskan pentingnya pengemasan cerdas didalam mendukung keamanan pangan. Pengemasan cerdas akan memudahkan penelusuran kembali produk yang dipersyaratkan sesuai peraturan global. Pemain UMKM jika produknya diprogram dapat merambah pasar yang lebih luas bahkan sampai ke pasar ekspor, harus dapat menyediakan pengemasan cerdas produknya yang berskala pemula tetapi dapat dimonitor dan dapat tersambung dengan teknologi pengemasan cerdas lanjut, ARPI menjelaskan lebih lanjut. Sedangkan manufaktur MS Plastindo menambahkan bahwa palet plastik harus dirancang untuk durasi masa pakai yang lebih panjang yang dapat menghemat biaya investasi lanjut ataupun operasi dan dapat mendukung sistem pengemasan cerdas kelompok kemasan dengan RFID kustom.
INCREASINGLY COMPLEX FOOD SECURITY COLD CHAIN REQUIREMENTS
Extreme temperature changes and the continued rise in global warming are limiting agricultural production, even as demand for food continues to rise in line with global population growth. The FAO’s goal of zero hunger by 2030 is difficult to achieve if cold chain systems and infrastructure are not properly developed with continuously evolving and appropriate technology. The current challenges are further complicated by the Gulf conflict, which limits the supply of energy, minerals, and other raw materials. In short, all the necessities needed to strengthen national food security are disrupted by supply chain disruptions. All countries are facing this challenge, continuing to seek appropriate and efficient strategic solutions.
This was revealed at the International Logistics Forum at the Smart Business & Logistics Asia Conference and Expo in Taipei, Taiwan, from June 23-25, 2026. The conference was attended by eight Asian countries, with keynote speakers: Taiwan, Indonesia, Singapore, Thailand, and Hong Kong. This forum aims to foster collaboration among Asian countries, particularly those mentioned above, with participation from Japan, Korea, and Vietnam. The International Logistics Forum’s main theme is the future of cold chain logistics and how to anticipate it with appropriate industrial and technological strategies, supported by regulatory harmonization between countries.
Indonesia, represented by the Indonesian Cold Chain Association (ARPI), not only explained the association’s role in supporting the government and the public, but also outlined the current state of national cold chain infrastructure, how to develop industrial business strategies, how to develop regulations in collaboration with relevant government agencies, and current technologies that support energy efficiency, green energy control, operational and product standardization required by industry, as well as collaboration between countries. The main strategy going forward following the signing of the MOU between these countries is to explore raw material markets, necessary technologies, and the current state of the cold chain market.
As is known, Indonesia accounts for 38 percent of the cold chain market share in Southeast Asian countries and has a typical geography as a biggest maritime countries in SEA. Meanwhile, Taiwan has capable Artificial Intelligence (AI) technology in the agricultural and maritime sectors, as well as semi-conductor technology which controls 65% of the world market.
Meanwhile, in a different event, at the Smart Packaging For Food Delivery & Storage seminar at the All Pack Surabaya Expo on July 1-4, ARPI collaborated with PT. Mandiri Sinergi Plastindo (plastic pallet and box automation manufacturer) to explain the importance of smart packaging in supporting food safety. Smart packaging will facilitate product traceability as required by global regulations. MSME players, if their products are programmed to penetrate a wider market, even to the export market, must be able to provide smart packaging for their products on a beginner scale but can be monitored and can be connected to advanced smart packaging technology, ARPI explained further. Meanwhile, the manufacturer MS Plastindo added that plastic pallets must be designed for a longer service life that can save on further investment or operational costs and can support a smart packaging system for packaging groups with custom RFID.
