IMG-20170420-WA0019

LIPUTAN SEMINAR ARPI di IISM Surabaya

BISNIS SEKTOR PERIKANAN SAAT INI MEMPRIHATINKAN 

WAGATABERITA.COM – SURABAYA. Bisnis disektor perikanan saat ini masih terbilang memprihatinkan karena volume ekspor baru mencapai 50 persen dari kebutuhan.

Itu dkemukakan Ir Budhi Wibowo, Ketua Umum Asosiasi Pengusaha Pengolahan dan Pemasaran Produk Perikanan Indonesia di Surabaya, Kamis (20/04/2017).

Wibowo menambahkan, ekspor sektor perikanan nasional saat ini mengalami penurunan dari 1, 3 juta ton pertahun menjadi 1,1 juta ton pertahun. Apalagi di Jawa Timur, lebih memprihatinkan, katanya.

Di Jatim juga mengalami penurunan ekspor sektor perikanan karena disebabkan pasokkan bahan baku ikan yang yang datang dari Sulawesi, Maluku dan Nusa Tenggara Timur (NTT), kata Fakthur Razaq. Dia juga menambahkan, konsumsi ikan di Provinsi Jawa Timur (Jatim) baru sebesar 31 ton/kapita pertahun. Itu masih rendah dibanding konsumsi nasional yang mencapai 40 ton/kapita pertahun.

Ir Fakthur Razaq, M.Si, Kepala Bidang Kelautan dan Pengawasan Dinas Kelautan dan Perikanan Jawa Timur itu menyampaikan itu pada Seminar Supply Chain Practices In Maintaining Seafood Quality di Grand City Mall Surabaya, Kamis (20/04/2017).

Kebutuhan konsumsi ikan di Jatim itu terdiri dari konsumsi rumah tangga, restoran, UKM dan Industri Perikanan. Meski begitu secara bisnis kebutuhan ikan di Jatim masih cukup potensial, apa lagi dengan jumlah penduduk Jawa Timur yang berjumlah sekira 40 juta jiwa. Karena itu kata Fahthur pada tahun 2019, konsumsi ikan ditargetkan mencapai 34 juta ton/kapita pertahun.

Data yang ada di Jawa Timur tercatat sebanyak 211 unit perusahaan pengolahan ikan. Itu terdiri dari pengawetan ikan, pengolahan dan industri kerupuk.

Sedangkan kebutuhan bahan baku ikan di Jatim yakni udang 800 ton/hari, ikan beku 1.200 ton/hari dan untuk kerupuk dan pindang sebanyak 2000 ton/hari. (Haludin Ma’waledha).

Sementara itu, ARPI menjelaskan bahwa makna dan penerapan COLD CHAIN SYSTEM hendaknya dikuasai oleh pelaku bisnis, terutama industri manufaktur dan kontraktor selain instansi pemerintah terkait dan end-user. Saat ini, cold chain system sudah menjadi trending topics di dalam program kedaulatan pangan nasional tetapi implementasi yang tepat guna masih menjadi tantangan kedepan.

Salah satu industri manufaktur transportasi berpendingin dari PT. EST International (brand : Prima Cold Chain), industri kolaborasi Korea dengan lokal, menawarkan sistem PCM (Phase Change Material’s) didalam mensiasati keterbatasan suplai energi, penghematan energi dan area pelosok (remote area). Transportasi berpendingin yang ditawarkan meliputi kendaraan roda empat, roda enam dan roda tiga. Alat PCM ini dimasukkan kedalam kendaraan dry insulated box untuk mempertahankan suhu produk selama 18-30 jam.

IMG-20170420-WA0019